Rabu, 03 Januari 2018

SEBAGAI TRAINER: BERUNTUNG SAYA BELAJAR SKILL INI

Sejak 3 tahun lalu saya menekuni dan belajar tentang Public Speaking, saya menyadari yang selama ini saya abaikan. Merasa bisa menyampaikan informasi dengan baik kepada atasan, merasa mumpuni menyampaikan pesan ke anggota team, merasa informasi yang saya sampaikan mudah dipahami orang lain. Merasa… selama lebih dari 20 tahun saya merasa bisa….

Pertama kali masuk kelas Public Speaking – atau yang lebih tepat “saya terjebak”, karena awalnya hanya mewakili teman yang berhalangan hadir, ternyata banyak sekali hal baik terkait dengan kemampuan bicara di depan umum yang bisa saya perbaiki. Itu terjadi akhir 2014 lalu, saat mendapat undangan kelas Smart Public Speaking dari HeartSpeaks Indonesia.

MENGAKU DOSA

Ternyata vocal saya begitu bermasalah, satu hal yang tidak saya sadari selama ini. Intonasi datar, suara tenggorokan (uuups apa itu suara tenggorokan, begitu respon saya saat itu), picth rendah, salah jeda saat bicara, dan satu hal yang paling parah adalah VIRUS. Soal VIRUS saya sangat beruntung bertemu dengan HeartSpeaks, sejak saat itu saya mulai sadari dan bisa menghilangkan virus “eeee, eeee, eeee” saat bicara. Sering kali saya mengucapkan “contoh misalnya” ini virus yang saya perlu perjuangan untuk menghilangkannya menjadi “contoh” saja.

Selain masalah vocal, banyak masalah lain yang akhirnya saya tahu ada di diri saya dan bisa diperbaiki setelah melalui perjuangan panjang. Cara berdiri saya “salah”, slide presentasi saya “salah”, cara pegang mic “salah’, metode yang saya gunakan “itu-itu saja”, bahkan cara berhitung saya “salah”..

Ternyata yang selama ini saya anggap diri saya normal dan baik-baik saja, uups secara teknik Public Speaking perlu diperbaiki semua.

PEMERHATI

Setelah belajar, praktek, belajar, praktek selama lebih dari 2 tahun, saya berubah menjadi pemerhati. Pekerjaan saya saat ini memungkinkan bertemu banyak orang, hampir setiap hari saya mengundang agency untuk presentasi – apa yang mereka propose untuk kami.

Selain menyimak isinya, saya selalu memperhatikan vocal mereka, cara berdiri berdiri mereka, slide yang digunakan, antusiasme, dan aspek lain dalam public speaking yang saya tahu. Sengaja saya melakukannya untuk mengasah kemampuan saya, sekaligus meyakinkan diri ternyata begitu pentingnya ilmu public speaking, bahkan untuk semua profesi.

Apa yang dipresentasikan relative sama, yang membedakan adalah cara mereka mempresentasikan, berbeda-beda. Ada yang presentasi sambil duduk malas, ada yang berdiri dengan penuh semangat, ada yang menggunakan alat peraga, ada yang memutarkan video,… yaa cara mereka presentasi berbeda-beda dan karena saya tahu ilmunya, saya merasa, mereka akan lebih mudah nge-GOAL-in proyek seandainya memiliki skill presentasi yang lebih baik. Nyatanya, kami sangat terganggu dengan virus dari para agency ini, bahkan beberapa laptopnya tidak kompatibel dengan infocus kantor kami, beberapa malah lupa naruh file-nya di mana, sehingga gagal presentasi.

Dalam hati: seandainya mereka semua sempat belajar public speaking

NGAPAIN BELAJAR PUBLIC SPEAKING – ORDER KELAS SAYA SUDAH BANYAK

Beberapa kali saya berbaik hati kepada rekan-rekan trainer yang saya kenal, dengan memberikan informasi tentang ketrampilan Public Speaking dan pentingnya untuk karir mereka. Saat itu mereka cukup padat dengan order kelas yang nggak habis-habis. Saya tahu betul bahwa mereka tumbuh alami menjadi seorang trainer, punya ilmu, ilmunya cukup untuk dishare, dan akhirnya dijual dalam bentuk kelas.

Mereka, temen-temen trainerku belum melihat bahwa ada Ilmu Delivery, atau tahu tapi tidak menganggap hal itu penting, ilmu delivery agar materi yang disampaikan bisa diterima secara maksimal. (ilmu delivery yang saya maksud adalah llmu Public Speaking). Ilmu Public Speaking mengajarkan tehnik-tehnik berbicara di depan umum, berbicara ke orang banyak. Artinya, temen-temen trainer ini sudah semestinya mereka memaksimalkan penampilan di depan kelas dengan memepelajari dan mempraktekkan Ilmu Public Speaking.

Sebagai teman saya berbaik hati untuk menginformasikan pentingnya ilmu Public Speaking bagi profesi seorang trainer. Dan jawaban mereka hamper sama, meskipun hanya tersirat, menolak dengan cara halus, tapi saya bisa memaknai “ngapain saya belajar public speaking – sekarang kelas saya sudah banyak dan order terus ada”. Ohh oke, saya hanya kasihan pada audien di kelas Anda kok… kasian kalau mereka booring di kelas, kasihan terpaksa mendengarkan virus, kasihan dipaksa belajar dengan cara yang nggak oke, …..

Saya membayangkan, para trainer secara sengaja belajar dan menguasai Ilmu Public Speaking, lihat apa yang dirasakan oleh para audien dan klien, mereka puas, happy, order lagi dan lagi…

Dan saya tidak akan pernah bosan untuk sharing kepada kolega di setiap kesempatan, tentang pentingnya PUBLIC SPEAKING.

Salam Public Speaking
Joko Ristono

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rabu, 03 Januari 2018

SEBAGAI TRAINER: BERUNTUNG SAYA BELAJAR SKILL INI

Sejak 3 tahun lalu saya menekuni dan belajar tentang Public Speaking, saya menyadari yang selama ini saya abaikan. Merasa bisa menyampaikan informasi dengan baik kepada atasan, merasa mumpuni menyampaikan pesan ke anggota team, merasa informasi yang saya sampaikan mudah dipahami orang lain. Merasa… selama lebih dari 20 tahun saya merasa bisa….

Pertama kali masuk kelas Public Speaking – atau yang lebih tepat “saya terjebak”, karena awalnya hanya mewakili teman yang berhalangan hadir, ternyata banyak sekali hal baik terkait dengan kemampuan bicara di depan umum yang bisa saya perbaiki. Itu terjadi akhir 2014 lalu, saat mendapat undangan kelas Smart Public Speaking dari HeartSpeaks Indonesia.

MENGAKU DOSA

Ternyata vocal saya begitu bermasalah, satu hal yang tidak saya sadari selama ini. Intonasi datar, suara tenggorokan (uuups apa itu suara tenggorokan, begitu respon saya saat itu), picth rendah, salah jeda saat bicara, dan satu hal yang paling parah adalah VIRUS. Soal VIRUS saya sangat beruntung bertemu dengan HeartSpeaks, sejak saat itu saya mulai sadari dan bisa menghilangkan virus “eeee, eeee, eeee” saat bicara. Sering kali saya mengucapkan “contoh misalnya” ini virus yang saya perlu perjuangan untuk menghilangkannya menjadi “contoh” saja.

Selain masalah vocal, banyak masalah lain yang akhirnya saya tahu ada di diri saya dan bisa diperbaiki setelah melalui perjuangan panjang. Cara berdiri saya “salah”, slide presentasi saya “salah”, cara pegang mic “salah’, metode yang saya gunakan “itu-itu saja”, bahkan cara berhitung saya “salah”..

Ternyata yang selama ini saya anggap diri saya normal dan baik-baik saja, uups secara teknik Public Speaking perlu diperbaiki semua.

PEMERHATI

Setelah belajar, praktek, belajar, praktek selama lebih dari 2 tahun, saya berubah menjadi pemerhati. Pekerjaan saya saat ini memungkinkan bertemu banyak orang, hampir setiap hari saya mengundang agency untuk presentasi – apa yang mereka propose untuk kami.

Selain menyimak isinya, saya selalu memperhatikan vocal mereka, cara berdiri berdiri mereka, slide yang digunakan, antusiasme, dan aspek lain dalam public speaking yang saya tahu. Sengaja saya melakukannya untuk mengasah kemampuan saya, sekaligus meyakinkan diri ternyata begitu pentingnya ilmu public speaking, bahkan untuk semua profesi.

Apa yang dipresentasikan relative sama, yang membedakan adalah cara mereka mempresentasikan, berbeda-beda. Ada yang presentasi sambil duduk malas, ada yang berdiri dengan penuh semangat, ada yang menggunakan alat peraga, ada yang memutarkan video,… yaa cara mereka presentasi berbeda-beda dan karena saya tahu ilmunya, saya merasa, mereka akan lebih mudah nge-GOAL-in proyek seandainya memiliki skill presentasi yang lebih baik. Nyatanya, kami sangat terganggu dengan virus dari para agency ini, bahkan beberapa laptopnya tidak kompatibel dengan infocus kantor kami, beberapa malah lupa naruh file-nya di mana, sehingga gagal presentasi.

Dalam hati: seandainya mereka semua sempat belajar public speaking

NGAPAIN BELAJAR PUBLIC SPEAKING – ORDER KELAS SAYA SUDAH BANYAK

Beberapa kali saya berbaik hati kepada rekan-rekan trainer yang saya kenal, dengan memberikan informasi tentang ketrampilan Public Speaking dan pentingnya untuk karir mereka. Saat itu mereka cukup padat dengan order kelas yang nggak habis-habis. Saya tahu betul bahwa mereka tumbuh alami menjadi seorang trainer, punya ilmu, ilmunya cukup untuk dishare, dan akhirnya dijual dalam bentuk kelas.

Mereka, temen-temen trainerku belum melihat bahwa ada Ilmu Delivery, atau tahu tapi tidak menganggap hal itu penting, ilmu delivery agar materi yang disampaikan bisa diterima secara maksimal. (ilmu delivery yang saya maksud adalah llmu Public Speaking). Ilmu Public Speaking mengajarkan tehnik-tehnik berbicara di depan umum, berbicara ke orang banyak. Artinya, temen-temen trainer ini sudah semestinya mereka memaksimalkan penampilan di depan kelas dengan memepelajari dan mempraktekkan Ilmu Public Speaking.

Sebagai teman saya berbaik hati untuk menginformasikan pentingnya ilmu Public Speaking bagi profesi seorang trainer. Dan jawaban mereka hamper sama, meskipun hanya tersirat, menolak dengan cara halus, tapi saya bisa memaknai “ngapain saya belajar public speaking – sekarang kelas saya sudah banyak dan order terus ada”. Ohh oke, saya hanya kasihan pada audien di kelas Anda kok… kasian kalau mereka booring di kelas, kasihan terpaksa mendengarkan virus, kasihan dipaksa belajar dengan cara yang nggak oke, …..

Saya membayangkan, para trainer secara sengaja belajar dan menguasai Ilmu Public Speaking, lihat apa yang dirasakan oleh para audien dan klien, mereka puas, happy, order lagi dan lagi…

Dan saya tidak akan pernah bosan untuk sharing kepada kolega di setiap kesempatan, tentang pentingnya PUBLIC SPEAKING.

Salam Public Speaking
Joko Ristono

Tidak ada komentar:

Posting Komentar